Dieng, Enam Pagi

January 9, 2015

adakah aku atau luput
(..yang kuyakini juga setengah tergugup)
dalam doa subuhmu?

sebab pagi terlalu membeku
pada daun telinga dan kuku-kuku jemari;
membekukan lelah yang larut
pada kusut selimut, ampas kopi
dan sangit pawon yang damai

sedangkan, kau tahu, semalam adalah
usaha menjawab persoalan lama
seperti apa beda sepenuhnya terjaga
dengan memaksa ingatan menutup mata

kuterjemahkan engkau
(peri lucu yang semalaman
merangkai mimpi-mimpiku)
pada dieng yang biru
sebagai rasa sakit di waktu pagi:
warna lebam yang menggambar sisa-sisa nyeri

9 Juni 2014

Pawon

Musim Gugur/Buat, 8

July 22, 2014

katamu kita adalah angin sore itu, menerbangkan serbuk-serbuk benang sari yang kemudian jatuh ke putik, menghamilkan bunga-bunga taman. bunga-bunga yang di sampingnya dijaga papan bertuliskan “Dilarang Memetik atau Memegang.”

kataku kita adalah kelopak-kelopaknya yang tanggal, terjaga sampai pagi sebelum akhirnya gugur sebagai ucap syukur kepada subuh yang nastiti: yang cermat merawat rumput-rumput teki yang tak kunjung indah pada taman kecil yang ingin sekali kusinggahi.

tahun terus menggontai lamun, sampai saatnya kita tak lagi bertanya tentang perihal musim, seperti alasan mengapa kemarau menerbitkan kilat atau mengapa daun-daun di pekarangan ranggas terlalu cepat. lalu kau akan mendengar kata-kata pamit itu, “ataukah aku masih saja bersikeras melawan waktu?”

..ah, kubiarkan saja warna bunga tetap berdenyut serupa hidup yang terus melanjut.

 4 Juli 2014

subversi
sub-ver-si /subvérsi/ n gerakan dalam usaha atau rencana menjatuhkan kekuasaan yang sah dengan menggunakan cara di luar undang-undang.
                                      Kamus Besar Bahasa Indonesia (versi Android)

I said I love The Smith

“Aku tidak pernah keberatan menunggu siapapun
berapa lamapun selama aku mencintainya.”

–Seno Gumira Ajidarma, pada cerita pendek “Linguae”

“Aku mencintaimu itu sebabnya aku takkan pernah
selesai mendoakan keselamatanmu.”

–Sapardi Djoko Damono, pada sajak “Dalam Doaku”

“Kadang cinta hanya bisa bicara lewat selongsong senapan.”
–Buenaventura Durruti

“..love’s not only blind but deaf.”
–Arctic Monkey, Fake Tales of San Francisco

“Why do we need love anyway? If in the end its all about
feeding, breeding, protecting?”

–Tigapagi, Vertebrate Song (The Maslow)

***

“The artist, and particulary the poet, is always an anarcist, and can only listen to the voices that rise up from within his own being, three imperious voices: the voice of Death, with all its presentiments; the voice of Love and the voice of Art.”

–Federico Garcia Lorca (1898 – 1936)1

Lorca mendiskripsikan seorang seniman atau penyair adalah seorang yang anarkis karena hanya akan mendengarkan suara yang tumbuh dalam dirinya sendiri yaitu suara Kematian, suara Cinta dan suara Seni. Dan memang di situ tertulis dengan jelas, salah satunya: suara Cinta.

Mengapa salah satunya cinta adalah alasan kenapa seniman atau penyair itu sendiri menjadi lebih anarkis dari alasan di atas. Kematian sendiri menjadi hal yang disegani. Ia adalah sebuah akhir yang bisa jadi dramatis ataupun ironis. Seni pun menjadi hal yang bisa dipandang menyelamatkan kehidupan sehari-hari, yang semakin lama semakin mlenyok dan menjijikkan, karena seni sendiri merupakan representasi tembok idealisme seseorang. Sementara cinta? Hok hok hok hokya..

Sekian lama cinta telah terdegradasi menjadi hal klise. Singkatnya, coba kalau kita menonton di televisi, remeh temeh sinetron dan picisan murahan. Cinta yang malas dan mengendap pada lirik-lirik lagu di chart acara musik pagi-pagi. “Cinta yang tak habis-habis, takkan juga habis-habis.” kalau kata Melbi.

Saya tidak akan bicara soal cinta-subversif seperti yang diartikan mentah-mentah oleh KBBI di atas. Bukan cinta yang universal. Namun cinta yang serba dangkal. Bukan tentang cita-cita revolusi yang serba kiri. Namun soal kebanalan itu sendiri. Dan tentu, pada tulisan saya ini, saya akan banyak melenguh dan mengeluh. Bisa jadi ini menjadi tulisan yang berbau naif dan optimistis daripada realistis, sebab bawasanya cinta (entah semenjak kapan) diakui sebagai hal yang ideal daripada sebagai bentuk keniscayaan. Mengerikan, bukan?

Cinta itu subversif. Dan seharusnya memang begitu.

Subversif dalam hal ini adalah bahwa cinta adalah zat yang selalu bergerak pada suatu arah meski pada trajektorinya selalu terdapat hal-hal yang berlawanan arah dan memiliki potensi untuk memotong pergerakan cinta itu sendiri. Cinta menjadi satu-satunya zat yang murni, sebegitu murni sehingga menjadi zat yang tidak akan berhenti, yang akan terus merembes dan membasahi. Seberapapun tebal tembok yang menghalangi.

Cinta bisa saja mendobrak tatanan dan norma adat. Batasan-batasan seperti suku, ras, agama, dan antar golongan, atau basa-basi jawa macam bibit bebet bobot bisa diabaikan begitu saja.

Meminjam kredo Sudjiwo Tedjo: Kamu bisa merencanakan akan menikahi siapa, namun kamu tidak akan bisa merencanakan cintamu untuk siapa. Pun menurut penulis, menikah tidak (lagi) bicara soal urusan cinta namun kesepakatan. Ya, gampangannya, cinta itu takkan cukup dan takkan mencukupi. Namanya saja kesepakatan, ya, mesti ada syarat-syarat yang mesti disepakati. Nah, di sini cinta menjadi antipati. Tapi tentu tak semua “kontrak cinta” seperti itu, kan ya? Jadi tak usah repot-repot bicara soal cinta kalau menikah cuma jadi beban pikiran untuk urusan keturunan atau bagaimana cara cari makan. Life is to live and love is to love. Maka termuliakanlah mereka yang menikah lalu hidup bersama karena memang saling mencintai.

***

Teman saya pernah bertanya-tanya, atau lebih tepatnya, kebingungan. Kenapa ada seseorang membanting tenaga, waktu dan dompet untuk kekasihnya yang notabene belum pasti jadi muara cintanya kelak. Cinta yang subversif dan cinta yang buta memang bedanya tipis. Tapi sesia-sianya kita mencintai seseorang, bukankah terasa membahagiakan apabila kita bisa di dekat seseorang yang kita cintai?

“Itu racun, racun.” tambah teman saya itu menjelang akhir pembicaraan.

Ya, memang. Bahkan teman saya itu mengakui tidak mendapat apa-apa ketika dia hampir setiap hari mengantar jemput atau sekedar mengeslahkan sepeda motor pacarnya ketika sedang macet. “Tapi kowe seneng to iso ngewangi yangmu sik lagi kangelan po keno alangan?” Ya, seharusnya ia merasa bahagia. Mulai dari sini cinta mungkin mulai menjadi jenuh dan membanal karena rasa ingin mengasihi tidak bisa dihindari, dan memang sebenarnya tak usah dihindari. “Jika saja ada jendela dan jika saja ada segelas soda.” kata Melbi lagi, soal cinta yang lama-lama mengendap dan mempengapkan.

Namun cinta tak melulu seperti itu. Itulah mengapa cinta lebih subversif dari yang kita bayangkan.

Bagaimanapun, mau tak mau, cinta tak melulu soal kasih mengasihi. Di sini cinta terasa—untuk yang tak kuat ataupun yang tak paham—mengerikan. Bawasanya cinta menjelma menjadi hal-hal yang membuat kita bertanya-tanya. Ketika cinta telah moksa dan mencapai level tertentu, tak semua orang bisa merasakan keberadaannya. Jika Durruti bisa berseru bahwa kadang cinta hanya bisa bicara lewat selongsong senapan, lalu kenapa cinta tidak bisa menjelma menjadi bentuk yang tidak pernah kita kira sebelumnya? Merelakan seseorang, misalnya (walaupun saya tidak akan membahas secara teo-sentris namun secinta-cintanya kita karena Tuhan pun, adalah cinta yang ikhlas, bukan?). Itsudemo..2

Memang kebanyakan yang saya tulis seperti orang tanggung yang terobsesi dengan tayangan sinetron ala FTV. Tapi, ya, mendinganlah daripada berkata realistis, namun dalam artian yang lain: realistis karena menyerah pada realita. Dan dengan tidak bermaksud menggurui dan lalu meniru khatib shalat jumat yang berkhutbah untuk dirinya sendiri, maka memang tidak ada salahnya jika Dewa 19 menulis lagu berjudul “Cintailah Cinta”. Sebab adanya cinta sendiri memang untuk dicintai. Cinta adalah niscaya. So, gimana-gimana, My Love?

Catatan:

  1. Kutipan Federico Garcia Lorca diambil dari majalah Horison pada rubik Catatan Kebudayaan berjudul Musuh-musuh Puisi atawa Cara Menulis Puisi Jelek, edisi November 2010.
  2. Frasa pertama pada bait reff lagu berjudul One more time, One more Chance oleh Yamazaki Masayoshi. Versi bait panjangnya: Itsudemo sagashiteiru yo dokka ni kimi no sugata wo (Aku selalu mencari di manapun keberadaanmu). Kabarnya ia menulis lagu tersebut untuk kekasihnya yang meninggal sewaktu terjadi gempa besar di Jepang.

Potongan gambar diambil dari film (500) Days of Summer (Marc Webb, 2009)

 

Dan lalu… playlist saya memainkan Float: Tidakkah cinta berkuasa? Tak semestinya luka menghentikan langkah. Bila saatnya, hadapilah!

Dermaga

March 28, 2014

dermaga-dermaga lebih dulu menutup kanal-kanal kecil sehingga kau harus pulang dan aku masih harus berpegangan pada tiang-tiang kapal yang terus bergoyang.

sejak aku mengenalmu, kau tak mirip siapapun.*

barangkali puisi-puisi bagimu sudah seperti panjang khutbah jum’at yang diamini dengan terkantuk-kantuk. maka semakin kita saling memperjelas maksud, semakin pula kita dimabuk.

ombak-ombak kecil lautan memang tak kasar mendorong ke tepian namun begitu memabukkan. sementara kupeluk dingin kaku tiang, di kejauhan suar tak juga nyalang.

malam adalah makrifat. ombak adalah makrifat. ikan-ikan adalah makrifat. kesunyian adalah makrifat.

langit tak batas.

laut berpalung.

jika tenggelam artinya adalah kembali ke ketiadaan maka aku akan sudi untuk membenam.

kompas berpusing tak tentu, pun arah angin bisa saja menipu.

ya, rupanya masih ingin kujumpai dirimu, meski tak pernah kupahami ke laut mana cuaca mengembangkan layar.

meski arah menuju dermagamu tak pernah bersuar.

sejak aku tak mengenalmu, aku tak mirip siapapun.

 

27 Maret 2014

*meminjam Pablo Neruda

Di Kejauhan

February 24, 2014

Lebih lengang aku di kelak-kelok jalan;
lebih lengang pula ketika berada antara
yang mengharap dan yang melepas.
–CA

/1/
yang seperti biasanya adalah aku: duduk di samping jendela kamar lalu menulis sebab bosan, atau telah letih menjalang di celah-celah keembuhan (tak lama lalu tergores di ujung pena: ..debu adalah bekas wangi pada bunga abadi di atas meja kerja..).

/2/
sementara waktu merubah seluruh dan segala seperti senja magenta yang menggoreskan musim tak tentu pada pucat daun mangga. sebagaimana pula dahulu Ibu pernah berkata, “suatu hari bunga Kenanga yang tersimpan di antara lembar buku akan kering, lalu mewangi.” (ah! eckart kecil tentu tak sepenuhnya mengerti!)

/3/
tapi sungguhpun ada yang tak berubah (entah kenapa tiba-tiba aku kepingin jadi debu yang ditiup angin; yang sejenak membuatmu berhenti berjalan untuk sekedar membuang muka lalu bersin-bersin..). aku tak pernah lepas. tak pernah bertukar. tak pernah beranjak. di kejauhan pula bianglala masih sama seperti yang dahulu; yang lengkung tipis-tipis, yang sehabis hujan, yang entah ujungnya itu.

/4/
kudapati kembara yang rupanya sama saja. masih juga ingin selalu kusinggahi, meski persimpangan demi persimpangan menuju rumahmu tak pernah benar-benar kulewati. riwayat tak ubah. rindu tak menghijau. menunggu penghujan tanpa mantrol atau payung jelas menunda basah. sampai kaurobek lembar kalender yang keentah, sampai tangkai-tangkai tahun jadi asing; aku cuma gugur tegesan yang ditentramkan abu Kelud yang teramat runcing.

/5/
maka, di kejauhan aku cuma sebatang kerontang yang kurang lebih membayangkan akhir pengembaraan. memahami puisi tak ubahnya memandang ke langit sepi. melakoni persoalan harap-lepas hanyalah dengung yang tak capai kuinsyafi pada kedua belah timpani. ah, jikapun lebih suka kujalani, masih lebih suka kudengar karang ceritamu. segala perihal ngeri atau percintaan cuaca di akhir makan siang kita. segala yang kauceritakan tatkala kausentuh kuku-kuku jemariku; yang telunjuk atau yang jari manis itu.

9 Januari 2014

however, there is something that stays
however, there is something that bemoans

–We Are The Time. We Are The Famous,
Jorge Luis Borges


she draws the drying leaves into air, street, or pond;
swallows depth of its scent
landscape will remain;
the people, the believer, the moan,
the unknown languange we’ve spoken

from some fabled times:
I will never forget.


5 February  2014

I Sent You

January 15, 2014

I sent you postcard with picture, my wife

par avion: a city park, grasses and flowers, bench and some elders, pingeons and infinite sky

Me, of course, I wasn’t there.
But I was.

-Kukirimkan Padamu, Sapardi Djoko Damono

reykjavik city park

Senja Skandinavia

November 24, 2013

isafjordur_city_center

1

“Kau tahu? Dan yang paling ekstrim aku membayangkan kita kelak menetap di apartemen kecil di Ísafjörður. Kamu baik-baik bekerja dan aku melanjutkan S-2.” katamu di ujung telepon.

Oh, tentu saja, Ísafjörður. Kota kecil yang dikelilingi lembah pegunungan berkabut menjorok di tengah teluk. Ada sekolah musik, sebuah airport kecil dan pelabuhan-pelabuhan. Kamu memilih kota kecil yang indah.

“Oh, S-2? Maksudmu Reykjavík?”

“Tidak. Bukankah di sana sudah terlalu ramai? Dan jika pada saatnya kamu libur bekerja dan aku libur kuliah, kita akan melihat Sigur Rós bersama-sama.”

Aku tersenyum. Memang tak apa kaubayangkan segalanya, toh hanya membayangkan. Tidak berdosa. Itu tak berlebihan. Tak ada harapan yang muluk-muluk. Semua bayangan itu akan menjadi sederhana sebagaimana bayangan lainnya.

Tentu aku juga membayangkan sesuatu. Kelak akan kuajari anak kita bermain piano. Atau les biola. Atau cello. Ya paling tidak bisa memainkan flute. Memang instrumen string dan semacamnya lebih cocok jika seorang perempuan yang memainkannya. Aku memang selalu membayangkan kita memiliki anak perempuan bukan laki-laki.

“Jika laki-laki akan kauberi nama siapa?” tanyamu mengejar ceritaku.

“Emm, aku tak tahu. Kalau kamu mau, kita bisa minta nama anak lelaki itu pada Gus Mus lewat Twitter. Tapi jika perempuan akan aku beri nama Ilyena. Bacanya a-la-ie-na. Dia pasti sangat cantik dan lucu.”

2

Öxnadalur terasa seperti tepian lembah menuju puncak Syarif dan Klenteng Songo ketika aku pertama kali pergi ke Merbabu. Padang rumput yang luas itu selalu menimbulkan rasa teduh. Kita berdua sedang menonton Sigur Rós dari kejauhan sebab barisan depan sudah lumayan sesak. Ada yang membuat bonfire besar. Dikelilingi orang-orang yang membawa keluarga dan sanak saudara. Kakek, nenek dan cucu-cucu mereka. Sementara kamu dan aku duduk di tengah-tengah padang rumput luas yang dikelilingi pohon-pohon cemara–entah pinus–dan cedar raksasa. Dan terasa hanya ada kita berdua.

Seperti katamu di sini seolah-olah selalu mendung. Saat itu senja turun perlahan, membuat softlens pada iris matamu semakin kecoklatan. Lanskap bergeming. Cuaca berteduh. Deru angin menggoyang-goyangkan kemuning rerumputan. Pegunungan berubah hujau. Sementara kausandarkan kepalamu pada pundak kananku, kubenarkan letak syal wol yang kedodoran pada lehermu. Kita kedinginan.

“Íslenska-ku tak baik.” keluhmu, tiba-tiba.

“Aku juga.”

“Yang ini terdengar bagus. Apa judulnya? Aku lupa.”

“Kalau tidak salah, judulnya Ekki Múkk.”

Yang kutahu setelah itu kamu tak lagi menanyakan apa judul lagu yang seterusnya dimainkan. Kita diam dan mendengarkan suara apapun yang ada di sana tanpa pernah lagi bertanya. Entah gesekan bowed guitar Jonsi, entah sayup-sayup senja Skandinavia yang abu-abu semu oranye yang suka meneduhkan kaku pohonan cemara–atau pinus itu–dan cedar raksasa. Sayup-sayup senja yang sanggup menidurkan sepasang kekasih yang tak kuat terjaga.

20 November 2013

Pemaknaan Simbolik Fight Club

September 17, 2013

WARNING: SPOILER ALERT!

“We’re consumers. We are by-products of a lifestyle obsession. Murder, crime, poverty, these things don’t concern me. What concerns me are celebrity magazines, television with 500 channels, some guy’s name on my underwear. Rogaine, Viagra, Olestra.”
– Tyler Durden

fightclub2

Fight Club (1999) merupakan bukti kuat dan sahih bahwa David Fincher memang lebih suka membuat film yang melukai daripada menghibur penontonnya. Dengan menarik aktor seperti Brad Pitt yang diidolakan khalayak pemuja budaya pop, ia mengobrakabrik harapan tersebut dengan sosok peran yang radikal dan revolusioner: Tyler Durden.

Banyak adegan yang membuat saya me-rewind berulang kali lalu sejenak menyadari kalau adegan-adegan tersebut sangat satiris dan melukai, siap menghantam wajah penontonnya. Berikut poin penting yang layak diperhatikan, selain twist film yang terlalu dielu-elukan.

1. Adegan saat Jack/Narator dan Marla Singer bertengkar memperebutkan jadwal sharing penderita penyakit benalu.

fightclub3

Jack/Narator dan Marla Singer bertemu pada saat berada di kelompok sharing bernama “Remaining Men Together”, di mana kegiatan sharing antar pengidap kanker testis  tentang kehidupannya. Sayangnya Jack/Narator dan Marla adalah penipu yang tidak sedang sekarat. Marla hanya menumpang minum kopi dan Jack/Narator berusaha menyembuhkan insomnia akut dengan cara menangis bersama-sama peserta sharing tersebut. Dikarenakan Jack/Narator tak lagi bisa menangis gara-gara seorang yang ia sebut sebagai turis, Marla Singer, maka mereka berebut jadwal perkumpulan itu.

Yang menarik dari adegan tersebuat adalah dialog antara Narator dan Marla Singer. Berikut cuplikan dialognya.

MARLA: I’ll take the parasites.

JACK/NARRATOR: You can’t have both parasites.  You can take blood parasites —

MARLA: I want brain parasites.

JACK/NARRATOR: Okay.  I’ll take blood parasites and organic brain dementia —

MARLA: I want that.

JACK/NARRATOR: You can’t have the whole brain!

MARLA: So far, you have four and I only have two!

JACK/NARRATOR: Then, take blood parasites.  It’s yours.  Now we each have three.

Scene itu sungguh memukau saya pada akhirnya, walaupun pada mulanya saya justru merasa ada yang mengganjal dan menganggu kemudian saya ulang-ulang adegan tersebut. Dialog tersebut tidak aneh jika kita mengerti awal ceritanya. Tapi jika hanya potongannya saja maka Narator dan Marla Singer seperti sedang memperebutkan sejumlah penyakit, yang tentu saja hal itu “enggak banget”. Begitu juga saat adegan tangan Jack/Narator ditaburi bubuk kimia oleh Tyler sampai terbakar, “Stop it.  This is your pain – your burning hand.  It’s right here.  Look at it.” dan adegan Tyler meminta Jack/Narator untuk memukulnya, “I want you to hit me as hard as you can.”

Ini menarik, karena secara aktual adegan ini menjadi negasi atas bagaimana seseorang tak pernah mau menerima ampas sebab mungkin hal yang manis telah menjadi pahit. Egois? Altruis? Sesungguhnya kebanyakan orang tak mau menderita, menolak penderitaan. Itu wajar, tapi bagaimana dengan kehidupan? Yin dan Yang? Mengutip Efek Rumah Kaca: Nikmatilah saja kegundahan ini, segala denyutnya yang merobek sepi. Kelesuan ini jangan lekas pergi. Aku menyelami sampai lelah hati.

2. Peraturan pertama dan kedua Fight Club: You do not talk about Fight Club.

fightclub4

Tyler sadar benar klub tinjunya akan segera populer. Mungkin juga dengan sang penulis Chuck Palahniuk, novelnya akan terkenal dan orang-orang akan membicarakannya lalu berlagak dan akan macak sok-sokan, “Pernah baca/nonton Fight Club? Belum? Kamu tidak keren dan kamu tidak revolusioner!” Ini terlalu menampar pemuja postmodernisme dan perihal cult. Termasuk penikmat Fight Club itu sendiri. Dan tentu saja termasuk saya sendiri (apalagi saat menulis tulisan ini).

TYLER DURDEN: The first rule of fight club is — you do not talk about fight club.  The second rule of fight club is – you do not talk about fight club.  The third rule of fight club – when someone says “stop”, goes limp, taps out the fight is over.  Fourth rule is — only two guys to a fight.  Fifth rule — one fight at a time.  Sixth rule — no shirts, no shoes.  Seventh rule — fights will go on as long as they have to.  And the eighth and final rule — if this is your first night at fight club, you have to fight.

Hardline tersebut mendompleng poser dan hipster yang mengagung-agungkan Fight Club. Bagi Tyler, dua peraturan tersebut membuat partisipan Fight Club tidak merasa sok-sokan dan tetap pada tujuan: bertarung sebagai alternatif penyembuhan psikologis, bukan sebagai ajang kegiatan over manly dan sok jagoan.

3. Revolusi Raymond K. Hassel

fightclub5

Ini salah satu adegan yang paling memukau sekaligus membuat bulu kuduk saya berdiri. Raymond K. Hassell adalah seorang penjaga minimarket 24 jam yang diketahui memiliki cita-cita untuk menjadi veterinarian. Namun kenyataannya Raymond hanya menjadi seorang pecundang yang berdiri di belakang meja kasir.

Tyler paham benar apa yang seharusnya dilakukan Raymond bertahun-tahun yang lalu. Dalam adegan ini Tyler mengancam Raymond bahwa jika dalam waktu enam minggu ia tidak meneruskan usahanya menjadi veterinarian maka Tyler akan membunuhnya.

Ini memadatkan kembali apa yang telah dianggap klise: do what you wanna do. Lakukan apa yang ingin kamu lakukan. Mengapa ini penting untuk diperhatikan? Karena itulah cara mengembalikan sisi humanisme yang tercecer-cecer oleh sistem dan kelas (dalam opening pada Fight Club edisi blu-ray terdapat frasa pendek sebagai peringatan Tyler, “if you don’t claim your humanity you will become a statistic.”).

Di akhir scene Tyler berkata pada Jack/Narator, “Tomorrow will be the most beautiful day of Raymond K. Hessell’s life. His breakfast will taste better than any meal he has ever eaten.” Dan ketika saya sadari adegan ini menjlungupkan saya.

4. Mengapa harus Sabun?

fightclub6

Ini mungkin menjadi pertanyaan lama yang tak kunjung dipertanyakan. Sabun adalah simbol perawatan diri. Dalam film ini disebutkan bahwa penemuan awal sabun adalah sebuah pengorbanan. Tyler berkisah sesaat sebelum membakar tangan Jack/Narator tentang orang-orang dahulu kala menemukan bahwa jika mencuci pakaian di bagian sungai tertentu, pakaian akan menjadi lebih bersih, lantaran dulu masih banyak mayat yang dibakar. Larutan alkali hasil dari air yang merembes dari abu kayu bercampur dengan lemak tubuh yang mencair karena terbakar akan menjadi larutan sabun yang mengalir di bagian tertentu pada sebuah sungai.

TYLER: The first soap was made from the ashes of heroes.  Like the first monkeys shot into space.

Yang ingin saya garisbawahi adalah pertentangan “simbolis sabun sebagai alat perawatan atau kecantikan (maskulinisme)” dan “pengorbanan pejuang masa lampau”. Chuck Palahniuk dengan cerdas membuat metafor sabun ini. Pada akhirnya yang akan mendompleng fenomena maskulinisme (yang terkait juga dengan fenomena konsumerisme kelas menengah ngehe/kaum elit pada umumnya) adalah fenomena-fenomena yang serba anarkistis dan radikalis (dalam hal ini perwujudannya adalah pengorbanan, abu bekas tubuh pejuang yang dibakar). Sebuah pernyataan bahwa revolusi atas sikap klise dan dangkal masa kini akan diseberangkan dengan pengorbanan yang emansipatoris. Dan pada intinya Fight Club menghajar habis-habisan kelas menengah ngehe dan elitis.

***

Beberapa pemaknaan di atas terjadi begitu saja karena hal yang  selalu saya dengar tentang Fight Club ini adalah, “Wah! Endingnya bikin kaget!” “Eh, buset bro, twistnya bro..” Meniru Tyler, dengan pengorbanan berwujud mengistirahatkan skripsi, maka dengan anarkis saya menulis catatan ini.

3 Desember 2012 – 17 September 2013

Piano

August 31, 2013

“di antara gemuruh tepuk tangan, dengan rasa terimakasih tertinggi kurayakan denganmu, sukacita itu..”

dan peluh terasa lebih dingin pada basah kerah kemejaku, sementara belum juga kau katakan sesuatu. lampu terang lalu mendadak padam, berulang-ulang. Lani dan Oscar kita biaskan ke arah letih keadaan (ah! lagu demi lagu kian membeku dalam sesimpul senyummu!).

bukankah terlalu lekas katamu, pertunjukan boneka-boneka dan denting piano itu?

tapi gegas sukacita seolah tak serumit seperti yang kau rumuskan dengan setengah melantur, sebab cukup hanya dengan mengenalmu kubenamkan segenap tubuhku ke dalam telaga syukur..

31 Agustus 2013